Kamis, 31 Juli 2008

Wanita Jepang konsisten menjadi Ibu.

WANITA JEPANG TETAP KONSISTEN MENJADI IBU, PENDIDIK MANUSIA YANG PERTAMA-TAMA.

Oleh: ANNI IWASAKI (Ketua Anni Iwasaki Foundation)

"kikunataraokasan ni naritai" - kalau besar ingin menjadi ibu-jawaban anak-anakJepang seperti itu, rasanya tidak dimiliki oleh anak-anak perempuan diIndonesia. Apabila datang pertanyaan, OKalau sudah besar nanti ingin menjadi apa? Coba kita simak isi surat Kartini. Kamidi sini meminta, ya memohonkan, meminta dengan sangatnya supayadiusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukanlahsekali-kali karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan itusaingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini, melainkan karenakami, oleh sebab sangat yakin akan besar pengaruh yang mungkin datangdari kaum perempuan-hendak menjadikan perempuan itu lebih cakapmelakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan oleh Alam sendiri kedalam tangannya: menjadi ibu-pendidik manusia yang pertama-tama. (4Oktober 1902 Kepada Tn Anton dan Nyonya. Habis Gelap Terbitlah Terangterjemahan Armijn Pane. PN Balai Pustaka 1985) RilisKementerian Kesehatan-Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang tanggal 17Maret lalu mengungkap 61% ibu muda Jepang keluar dari pekerjaannyamenjelang kelahiran anak pertamanya untuk membesarkan buah hatinya.Survey diatas melibatkan 21.879 ibu muda yang melahirkan antara bulanJanuari 10-17 tahun 2001, dibagi dalam 4 periode. Setahun sebelummelahirkan, saat melahirkan, enam bulan setelah melahirkan dan 18 bulansetelah melahirkan. Didapatkan 73% dari jumlah responden mempunyaipekerjaan diluar rumah sebelum melahirkan anak pertama. 53% keluar daritempatnya bekerja sesaat sebelum melahirkan dan tidak kembali bekerjalagi. Ditambah dengan yang keluar dari pekerjaannya setelah melahirkan,jumlah seluruhnya menunjukkan 61% ibu muda Jepang meninggalkanpekerjaannya diluar rumah setelah melahirkan anak pertama. Darimasa ke masa grafik pekerja wanita-usia menikah 27 tahun-Jepang yangkeluar dari lapangan kerja terus meningkat. Kemudian di usia 40 tahunkeatas grafik wanita memasuki lapangan kerja mulai meninggi lagi. Halini dikaitkan dengan adanya kelahiran dan masa membesarkan anak -anakoleh ibu-ibu Jepang.@Tahunfiskal 2003 mencatat jumlah seluruh angkatan kerja wanita di Jepangsebanyak 25.5 juta yang 41. 4 %(9.3 juta) adalah pekerja wanita paruhwaktu, bekerja kurang dari 35 jam dalam seminggu. Dan dari seluruhtotal lapangan kerja paruh waktu, 77.4 persen diduduki oleh tenagakerja wanita-Japan A Pocket Guide 2004, Foreign Press Centre Japan-. Sejakberakhirnya PD II sekaligus yang meruntuhkan pemerintahan feodalkekaisaran Jepang, pendidikan rakyat Jepang untuk pria dan wanita dalamsain publik dan sain domestik terus melaju dan berimbang. Tahun 2002,97.5% wanita Jepang tamat pendidikan smu. Dibanding yang pria, wanitaJepang setelah lulus smu lebih banyak yang melanjutkan ketingkatpendidikan yang lebih tinggi ke kolese junior dan perguruan tinggi,48.8%. Kebebasanmemilih bagi wanita Jepang adalah, profesionalisme. Peran ganda sebagaiibu, terutama ibu anak balita sekaligus wanita pekerja. Dianggapsebagai chuto hanpa-peran tanggung, tidak populer di Jepang. Menjadiibu manusia Jepang atau tidak sama sekali. Hak dan kewajibanmasing-masing dilindungi oleh undang-undang. Sarana dan prasarana yangdiberikan oleh pemerintah sama-sama besar dan mendukung kesuksesanmasing-masing karir yang diemban. Bagiwanita pekerja Jepang-wanita tidak menikah/menikah tdkmelahirkan anak-, bisa mencapai jabatan yang setinggi-tingginya apabila dia sanggupdan mampu. Astronout wanita Asia pertama, bahkan mungkin yang pertamapula di dunia, terbang dua kali dengan NASA, space-shuttleColumbia-Juli 1994 dan Discovery-Nov 98, adalah wanita Jepang, Dr.Chiaki Mukai. Menlu sekaligus Deputi Perdana Menteri dari negara supereconomic power sekaligus bangsa tersejahtera didunia serta memilikiharapan hidup terlama, dan sedang berjuang meningkatkan peranan Jepangdi Dewan Keamanan PBB, adalah seorang wanita, Yoriko Kawaguchi. Bagiwanita Jepang yang memilih melahirkan anak. Secara ilmiah maupun dalamtradisi Jepang, mitsu no tamashi -masa-masa emas meletakkan pendidikandasar dalam usia tiga tahun pertama masa perkembangan pesat otakseorang anak-, adalah penyebab utama ibu muda Jepang berpendidikanmeninggalkan lapangan kerja melaksanakan ikuji-meletakkan dasarpendidikan berperilaku sejak dini kepada anak-anaknya- . Agarpara ibu muda Jepang tidak perlu membantu mencari tambahan nafkahkeluarga. Pemerintah Jepang menyediakan permukiman sewa layak untukpara keluarga muda, sejak dari jaman masih dinding terbuat dari papanhingga kini beton bertingkat tahan gempa dengan fasum&fasos yangsemakin maju seperti tehnologi informasi.Tanpa didorong-dorong namundengan daya tarik berupa sistim keamanan sosial, sarana& prasaranaserta pengetahuan yang semakin baik. Secara alamiah nilai keibuan yangdimiliki sebagian besar wanita Jepang bisa berkembanganmenumbuh-kembangkan anak-anak beserta lingkungan. Tak heran jikaanak-anak di Jepang , pria dan wanita, sangat sayang dan mengagumiibu-ibunya. Sebagai jelmaan Dewi Amaterasu yang dipuja oleh bangsaJepang. Pentingnya pendidikan sejak dini itupun telah disinggung dalam surat Kartini, dalamharibaan si ibu itulah anak belajar merasa, berpikir, berkata-kata.(Awal tahun 1900 kepada Nyonya Ovink Soer). Namun yang terjadi, anakIndonesia dari golongan ibu berpendidikan malah berada dalam haribaanpara pembantu rumah tangga dan baby-sitter.DiplomasiJepang di luar Jepang tentang peranan wanita Jepang sebagai senggyosyuhu „Aibu rumah tangga profesional- dan kyoiku mama-ibu pendidikan,memang nyaris tidak terdengar. Namun dalam aplikasinya di kehidupansehari-hari sangat gencar dan berkelanjutan.Tentangwanita (baca; ibu) yang bekerja di luar rumah telah menjadi agendautama pemutus kebijakan wanita Indonesia sejak berdirinya Meneg UrusanPeranan Wanita. Namun hak-hak para ibu Indonesia untuk dapatmelaksanakan kewajibanya melaksanakan fitrah keibuannya sebagai ibumanusia Indonesia belum pernah digaungkan. Dalamupaya bangkit dari keterpurukan saat ini, dengan melihat keberhasilanpembangunan manusia Jepang oleh para ibu Jepang. Ternyata, sangatrelevan mewujudkan segera cita-cita Pahlawan Nasional Ibu Kartini. Yangsejalan juga dengan UU Pernikahan RI 1974, UU Perlindungan Anak Thn2002 bahkan seirama dengan hati nurani kaum ibu Indonesia. Alangkahlebih baik jika para caleg wanita terpilih yang masih tebal nalurikeibuannya. Segera menengok pendidikan anak sejak dini oleh ibupendidikan Jepang dari dalam kawasan huni sewa tempat tinggal mereka.Tanpa mewujudkan cita-cita Kartini, cita-cita seluruh ibu Indonesia,berapapun anggaran pendidikan akan dinaikkan oleh pemerintahan yangakan datang. Dalam sekejap akan segera diketahui hasilnya, adalahkegagalan dan kegagalan lagi disegala bidang.

# Anni Iwasaki Koresponden Media Indonesia di Tokyo Jepang. Tokyo 17 April 2004.
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Mungkin anda pernah mendengar ungkapan berikut ini: "If you are not in the table, you will be in the menu." Jika anda tidak duduk dimeja makan, maka anda akan menjadi menunya. Tentu kita sepakat bahwa lebih baik duduk dimeja makan daripada menjadi menunya, bukan? Namun, namanya juga ungkapan; tentu bukan pesan harfiahnya yang perlu kita perhatikan. Melainkan `makna sesungguhnya' dari pesan itu. Jadi, apa sih sesungguhnya pesan yang ingin disampaikan ungkapan itu? Kira-kira demikian; didalam dunia yang penuh persaingan ini, kita tidak bisa tinggal diam - menunggu seseorang melakukan sesuatu untuk kita. Kita sendirilah yang harus mengambil tanggungjawab itu. Karena, jika kita diam saja; maka kita ini tidak ubahnya seperti menu makanan yang terbaring pasrah dimeja makan. Ingat nasib menu dimeja makan? Tentu. Sebentar lagi dia akan dikunyah. Ditelan. Dan dua belas jam kemudian akan dibuang dalam bentuk yang anda tidak ingin melihatnya. Dengan kata lain, jika kita berdiam diri saja; pihak lain akan mengambil manfaat yang bertebaran disekitar kita. Sementara mereka menjadi sejahtera; kita hanya bisa menjadi objeknya saja. Kita tidak ingin mengalami hal sedemikian, bukan?Pagi itu saya bermaksud untuk menikmati sarapan. Saya memilih untuk menyantap soup berisi sayuran. Asyiknya, saya boleh memilih jenis sayuran apa yang hendak diramu dalam soup itu. Meletakkannya dalam mangkuk. Lalu menyerahkannya kepada sang koki yang dengan sigap akan memasakkan soup itu hanya dalam 3 menit saja. Pagi itu, gerakan saya agak terhenti, karena sayur favorit saya tidak ada. Lalu, saya bertanya; "Wah, tauge-nya tidak ada ya Pak?" Si koki tersenyum lalu menjawab:"Maaf Pak, taugenya sedang kosong…." katanya. Tanpa sayuran yang banyak mengandung vitamin E itu, saya merasa soup itu kurang lengkap. Tapi, mau bagaimana lagi? Akhirnya saya menerima saja keadaan itu.Sesaat setelah saya menyerahkan mangkuk berisi sayuran pilihan itu, sang koki berkata. "Sebenarnya ada sih taugenya Pak…," katanya. Dahi saya mengerut. Sambil berbisik didalam hati; `maksud elo….?' "Tapi," koki tersebut meneruskan "hanya tauge lokal, Pak.." katanya."Tauge lokal bagaimana?" saya bertanya."Iya, Pak, lokal. Bukan tauge import." Bisakah anda membayangkan itu? Seorang koki berkebangsaan Indonesia. Bekerja di hotel berbintang lima yang berlokasi di Indonesia. Melayani klien yang berbahasa Indonesia. Merasa menyesal untuk memberikan tauge hasil kerja keras petani Indonesia. Bagi saya, kenyataan ini cukup memilukan. Karena, ini menunjukkan bahwa sikap inferioritas kita sudah sedemikian kronisnya sehingga untuk urusan barang senilai tauge pun kita tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup. Dengan ungkapan diatas itu, sesungguhnya saya ingin menekankan kepada diri saya sendiri tentang betapa pentingnya untuk bersikap proaktif, dan berani mengambil resiko untuk melakukan sesuatu bagi diri sendiri. Bukan berdiam diri saja sambil menyerah pasrah atas tindakan apa saja yang akan orang lain timpakan pada diri saya. Jadi, lebih baik duduk dimeja makan daripada menjadi menu yang tersaji diatas meja makan itu. Tetapi, kejadian dipagi itu, menjadikan mata saya terbuka lebar, bahwa; bangsa ini sedang mengalami krisis yang begitu kritis dimana jangankan untuk duduk dimeja makan, bahkan untuk 'menjadi menu diatas meja makan itu pun' ternyata tidak memiliki cukup nyali.Jujur saja. Saya sedih. Sedih sebagai anak bangsa. Sedih sebagai anak petani. Dan sedih sebagai anak manusia yang sangat menyukai tauge. Tetapi, kesedihan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, katanya bukan? Baiklah. Jika demikian, hikmah apa yang bisa kita bawa pulang? Mari kita camkan hal berikut ini: 'Jangankan untuk duduk dimeja makan, untuk menjadi menu yang tersaji dimeja makan pun dibutuhkan perjuangan yang tidak ringan'. Sehingga, kita tidak mempunyai pilihan lain, selain menjadi yang terbaik dikelasnya. Jika kita ini adalah seorang tauge, maka menjadi tauge yang terbaik dibandingkan dengan para tauge lainnya adalah satu-satunya kondisi yang bisa menjadikan kita terpilih sebagai tauge pertama yang diberi kesempatan untuk menghiasi meja makan. Sebab, jika kualitas kita tidak cukup bagus – apakah itu karena persepsi orang lain, atau memang kenyataannya kita ini tauge jelek; maka tidaklah ada gunanya kita berharap bahwa seseorang akan memilih tauge dari jenis diri kita untuk menjadi bagian dari masakan prestisius yang disajikan seorang koki restoran.Jadi? Jadi, ini bukan saatnya bagi kita untuk bermanja-manja, ya? Bahkan, bekerja dan berusaha saja tidaklah cukup rupanya. Jaman dahulu kala; mungkin kita bisa bilang 'sudah saya kerjakan'. Tapi sekarang, itu tidak lagi cukup. Anda bekerja. Saya bekerja. Mereka bekerja. Siapa yang pekerjaannya lebih baik? Dialah yang mendapatkan kesempatan. Sedangkan yang lain? Maaf, anda harus mengantri dalam waiting list. Jika orang lain masih ada; maka anda tidak akan kami pakai. Jika orang lain selamanya ada, maka anda selamanya akan terbengkalai. Jika orang lain terus menerus lebih baik dari anda, maka anda akan terus menerus pula terlunta-lunta. Oleh karena itu, sekarang kita mesti lebih sadar bahwa merasa berpuas diri itu bisa membahayakan. Ini sama sekali tidak berhubungan dengan keserakahan. Karena, konteks yang tengah kita bahas adalah tentang mengimbangi dunia yang penuh persaingan. Jika kompetitor kita lebih baik; mengapa kita masih merasa yakin bahwa seseorang masih akan mempertahankan kita? Jika ada pekerja yang lebih baik dari kita, mengapa kita masih mengira bahwa perusahaan akan terus mempekerjakan kita? Padahal, kita semua sudah tahu bahwa perusahaan manapun tidak ada yang mau berkompromi dengan pegawai yang tidak memiliki daya saing. Bahkan, kenyataannya sekalipun orang-orang itu berkualitas tinggi; tidak jarang kena pengurangan juga. Coba saja perhatikan; banyak perusahaan besar yang akhir-akhir ini mengurangi jumlah karyawannya. Dan banyak petunjuk yang membuktikan bahwa itu tidak semata-mata dilakukan karena karyawannya kurang berkualitas. Memang, ada diantara mereka yang kurang bagus; tetapi, pengurangan karyawan secara masal lebih banyak disebabkan karena perusahaan itu sudah tidak lagi sanggup untuk mempertahankan semuanya. Jadi, suka atau tidak, mereka melakukannya. Jika sudah demikian; apa yang bisa kita lakukan? Demo? Boleh saja. Tetapi, jika perusahaan sudah menunjukan itikad baik dengan melakukan semua kewajibannya sesuai dengan undang-undang; apakah kita masih memiliki alasan untuk melawan?Hey, ternyata masalahnya menjadi semakin kompleks. Bahkan, menjadi orang yang bagus pun tidak dijamin terus dipekerjakan. Jadi, apa gunanya punya kualifikasi bagus jika demikian? Bukankah lebih baik santai-santai saja? Toh, sudah kerja keraspun akhirnya terhempas juga. Sungguh sebuah pemikiran yang menggoda. Tapi hey, lihat. Berusaha untuk menjadikan diri kita memiliki daya saing itu masih jauh lebih menguntungkan. Jika perusahaan kita baik-baik saja; mungkin kita bisa mendapatkan bonus yang menggiurkan. Mungkin kita akan dipromosikan. Atau, setidaknya; kita bisa diandalkan. Jika perusahaan kita terpaksa harus melakukan penghematan; mungkin kita bisa dipilih untuk tetap dipertahankan. Jika itu pun tidak bisa, mungkin perusahaan lain akan menyukai kualifikasi yang kita miliki. Tidak rugi bukan? Kalau tidak ada yang mau juga? Mungkin apa yang kita bangun dan kembangkan selama ini bisa menjadi bekal bagi kita untuk hidup mandiri. Apa bedanya?Jadi, bagaimana pun juga. Membangun kompetensi dan kualitas tinggi itu tetap lebih menguntungkan. Bukan hanya untuk meningkatkan daya saing kita. Atau berjaga-jaga jika situasi sulit menerpa kita. Tetapi yang lebih penting lagi adalah, kita bisa menunjukkan kepada sang pemilik jiwa bahwa; kita sudah mengoptimalkan semua yang diamanahkan- Nya kepada kita.
Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://dkadarusman. blogspot. com/http://www.dadangka darusman. com/

Catatan Kaki: Tidak soal apakah kita duduk dimeja makan, atau menjadi menu makanan. Sebab, keduanya membuktikan bahwa kita memiliki arti. Dan itu lebih baik daripada keadaan dimana kita kehilangan peran bagi dunia yang kita huni.

sekolah Cinta

PERNIKAHAN ADALAH SEKOLAH CINTA - Bertahun-tahun yang lalu, Saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan saya pasangan, "Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya", Tuhan menjawab. Akhirnya saya meminta kepada Tuhan, seraya menjelaskan kriteria pasangan yang saya inginkan. Saya menginginkan pasangan yang baik hati,lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuh perhatian.......... Saya bahkan meminta kriteria pasangan saya secara fisik yang selama ini saya impikan. Sejalan dengan berlalunya waktu, saya menambahkan daftar kriteria yang saya inginkan dalam pasangan saya. Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati saya, "HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan." Saya bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia menjawab, "Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar." Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dariMu?" Jawab Tuhan, " Aku akan menjelaskan kepadamu. Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagiKu untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagiKu untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar; atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam; atau seseorang yang mudah mengampuni, tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam; seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak..." Kemudian Ia berkata kepada saya, "Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semua itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu. Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid. Aku tidak akan memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu". Ini untuk : yang baru saja menikah, yang sudah menikah, yang akan menikah dan yang sedang mencari, khususnya yang sedang mencari........ JIKA...!!!!!! Jika kamu memancing ikan... Setelah ikan itu terikat di mata kail, hendaklah kamu mengambil Ikan itu... Janganlah sesekali kamu melepaskan ia ke dalam air begitu saja... Karena ia akan sakit oleh karena ketajaman mata kailmu dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup. Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang... Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya... Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja... Karena ia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi dia mengingat... Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh... cukuplah sekadar keperluanmu... Apabila sekali ia retak tentu sukar untuk kamu menambalnya semula... Akhirnya ia dibuang... Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi... Begitu juga jika kamu memiliki seseorang, terimalah seadanya... Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya Begitu istimewa... Anggaplah ia manusia biasa. Apabila sekali ia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untuk menerimanya. Akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya. Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terus Hingga ke akhirnya... Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi yang pasti baik untuk dirimu. Mengenyangkan. Berkhasiat. Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain... Terlalu ingin mengejar kelezatan. Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya. kamu akan menyesal. Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan yang membawa kebaikan kepada dirimu. Menyayangimu. Mengasihimu. Mengapa kamu berlengah, coba bandingkannya dengan yang lain. Terlalu mengejar kesempurnaan. Kelak, kamu akan kehilangannya; apabila dia menjadi milik orang Lain kamu juga akan menyesal.